All containers will be full if filled unless the container of knowledge, so If you do not know about something then ask.

Paparan Surat Al-Balad



Telah kita dengar bacaan surat al-balad diatas. kini saya akan mencoba untuk memaparkan sedikit tentang surat di atas dari ayat 1-4.
Arti sumpah peringatan Allah yang dimulai dengan Laa Uqsimu, yang arti lurusnya saja: tidak aku akan bersumpah! Meskipun arti lurus saja tidak bersumpah, namun maksudnya ialah bersumpah, sehingga perkataan Laa pada satu waktu berarti menafikan dan di waktu yang lain berarti nahyi, yaitu melarang, di Laa Uqsimu ini mesti diartikan bahwa Tuhan Bersumpah. Sehingga Syaukani di dalam tafsirnya Al-Fat-hul Qadiir mengambil kesimpulan bahwa Laa yang berarti tidak atau jangan ialah huruf zaidah huruf tambahan yang tidak ada arti dalam susunan ini. Tafsiran Asy-Syaukani ini menguatkan tafsiran Al-Akhfasy.
Seluruh ahli tafsir, sejak dari Ibnu Jarir Ath-Thabari, sampai kepada Ibnu Katsir dan lain-lain (jumhurul-mufassirin) telah mengartikan Laa Uqsimu dengan aku bersumpah, bukan dengan Tidak aku bersumpah.
Satu tafsiran dari Al-Qusyairi: Huruf Laa yang berarti tidak, di sini bukanlah huruf tambahan yang tidak berarti. Kata beliau Tuhan berfirman: TIDAK! Adalah bantahan terhadap manusia yang kelak akan dibicarakan dalam Surat ini, yaitu manusia yang terpedaya oleh dunia; tidaklah keadaan sebagai yang mereka sangka, yaitu bahwa mereka menyangka tidak seorang pun yang dapat menguasai mereka; yang akan tersebut di ayat 5 kelak.
Jadi menurut tafsiran Al-Qusyairi ini ialah begini: “Tidak! Persangkaan kalian itu adalah salah!” Aku bersumpah, demi negeri ini!”
Maka kita ambil sajalah tarjamah dan arti yang dipakai oleh golongan yang terbesar (jumhurul-mufassirin), sebagai telah kita suntingkan di atas; “Aku bersumpah, demi negeri ini.” (ayat 1).
“Dan engkau menjadi halal di negeri ini.” (ayat 2).
Ayat ini pun mendapat dua macam penafsiran yang berbeda, karena berbedanya pengertian tentang kalimat hillun.
Al-Wahidi berkata: Al-hillu, al-halal dan al-mahill sama saja artinya, yaitu lawan dari haram.
Ada penafsir mengatakan bahwa yang halal itu ialah perbuatan Nabi Muhammad, jika dia hendak bertindak bagaimanapun, walaupun membunuh orang, kalau negeri itu ditaklukkannya kelak. Dan telah beliau taklukkan kemudian, setelah beliau datang dengan tentaranya dari Madinah di tahun ke 8.
Ibnu Abbas menjelaskan; “Engkau halal membunuh siapa sja yang engkau rasa patut dibunuh, jika engkau masuk ke sana kelak.” Dijelaskan lagi oleh As-Suddi: “Engkau halal memerangi orang-orang yang pernah memerangimu di negeri itu.”
Ini pun dikuatkan oleh sebuah Hadis shahih;
“Allah telah menjadikan Makkah tanah haram sejak sehari Dia menciptakan segala langit dan bumi. Maka tetaplah dia tanah haram sampai kelak berdiri kiamat. Maka tidaklah pernah dia dihalalkan bagi seorang pun yang sebelumku, dan tidak pula dihalalkan bagi seorang pun sesudahku. Dan tidaklah dia dihalalkan untukku hanyalah satu saat saja pada suatu hari.”
(Muttafaq ‘alaihi; Bukhari dan Muslim).
Dari ayat ke-2 yang telah di jelaskan di atas “Engkau halal membunuh siapa sja yang engkau rasa patut dibunuh, jika engkau masuk ke sana kelak.”, secara tidak langsung telah memberitahu pada kita bahwa kita tidaklah boleh saling membunuh kecuali kepada orang yang patut dibunuh. Orang yang patut kita bunuh bukanlah orang yang telah menyakiti hati kita, menghina kita, mencemooh kita, dll. Tetapi orang yang patut kita bunuh adalah orang yang memerangi kita, yaitu orang yang memerangi agama Allah Swt. Dengan kita berniat beribadah karena Allah semata bukan karena menginginkan pujian atau apapun. Contohnya, kita berperang di Palestina.
“Demi yang beranak, demi yang diperanakkannya.” (ayat 3).
Siapakah yang dituju Tuhan dengan mengambil sumpah dengan waalid; yang berarti ayah, dan wamaa walad; apa yang dia anakkan. Menurut tafsir Mujahid dan Qatadah dan lain-lain: Yang beranak, atau ayah itu, yang dimaksud Tuhan ialah Nabi Adam; ayah dari seluruh manusia. Yang diperanakkan ialah kita seluruh keturunan Adam ini.
Dapat saja kita memperpanjang tafsir ini dengan penghargaan Allah terhadap Insan yang amat dimuliakan Tuhan di antara segala makhluk-Nya. Di Surat 17, Al-Isra’: 70, dengan bangga Allah menyatakan bahwa; “Sesungguhnya telah Kami muliakan keturunan Adam; dan Kami angkut mereka di darat dan di laut dan Kami beri rezeki mereka dengan yang baik-baik, dan Kami lebihkan dia dari sebahagian besar dari yang Kami ciptakan, benar-benar lebih.” Banyak lagi ayat lain menyatakan kelebihan Adam dan keturunannya itu.
Di dalam ayat ini disebut waa waalidin, yang berarti demi seorang ayah. Kita cenderung menumpangkan diri dalam tafsiran Ibnu Jarir, bahwa sumpah peringatan Allah itu bukan terkhusus kepada Nabi Adam atau Nabi Ibrahim. Sebab kalimat waalidin adalah nakirah, yang berarti tidak ditentukan kepada orang tertentu, bahkan mencakup barang mana ayah saja pun. Sambungannya wamaa walada; Yang berarti: dan apa yang dia peranakan. Kalau diingat bahwa yang diperanakkan itu tentu saja manusia, tentu hendaknya bukan memakai maa yang berarti apa yang melainkan memakai man yang berarti demi orang yang dia peranakan. Tetapi karena yang dimaksud bukan menyebut orangnya, melainkan menyebut macam ragam perangai, pembawaan, kelakuan, kepintaran, kebodohan, kekayaan dan kemiskinan, maka yang tepat memang Maa, bukanlah Man.
“Sesungguhnya telah Kami ciptakan manusia itu berada dalam susah payah.” (ayat 4).
Setelah berturut mengemukakan tiga macam sumpah peringatan, (1) Makkah sebagai kota terpenting tempat Ka’bah berdiri, (2) Muhammad yang begitu berat dan mulia tugasnya berdiam di Makkah itu, namun darahnya dipandang halal saja oleh kaumnya, (3) bersumpah lagi demi pentingnya, kedudukan ayah dan pentingnya pula anak-anak yang diturunkannya, masuklah Tuhan kepada yang dimaksudnya, memperingatkan bahwa Dia telah menciptakan manusia tidak terlepas daripada susah-payah. Susah-payah itulah bahagian yang tidak terpisah dari hidup itu. Tidak bernama hidup kalau tidak ada kesusahan dan kepayahan.
Berkata Al-Yaman: “Tak ada Allah menciptakan makhluk yang lebih banyak susah-payah dalam hidup ini, melebihi Anak Adam, padahal dia adalah makhluk yang paling lemah pula.”
Fikirkanlah; sejak dari dalam rahim ibu kepayahan itu sudah dimulai. Membalik-balikkan badan mencari jalan keluar sampai kepada tersumbur dari pintu. Setelah lahir dengan kepayahan, yang mula terdengar adalah tangis karena tak tahan dingin mula bertemu dengan udara luas, setelah berbulan lamanya merasa panas badan dalam rahim ibu. Setelah itu mulailah pusat dikerat, lalu menangis kesakitan. Mulailah menggerak-gerakkan tangan dan kaki; mulai menangis minta menyusu, menangis kedinginan karena telah basah oleh kencing, menangis karena telah berak, menangis minta digendong minta dibawa. Beransur badan besar, beransur besar kepayahan. Setelah itu bapa memandang telah kuat, mulailah merasa sakit dikhitan. Setelah selesai dikhitan, mulailah dimasukkan ke sekolah. Sejak dari kelas satu sekolah rendah sampai sekolah tinggi bertemu kesusahan mengahapal, kepayahan mengulang pelajaran, ketakutan mendapat angka “merah”. Dan kalau maju sekolah, orang tua susah dan melarat, susah payah mencari akal bagaimana melanjutkan sekolah. Dan setelah tammat sekolah yang tinggi, menggondol titel dan gelar Sarjana Hukum, Insinyur, dan Doktorandus, timbul lagi kesusah-payahan mencari pekerjaan. Dan setelah sampai berumahtangga, timbul lagi kesusahan menafkahi isteri, kemudian mengemudikan anak, timbul lagi kesusah-payahan lantaran umur yang lanjut.
Setelah isteri dan anak berdiri berkeliling, timbul lagi kesusahan menyediakan rumah yang layak tempat diam, kendaraan yang layak untuk perhubungan. Setelah rumah tempat tinggal siap dan kendaraan telah sedia, timbul lagi kesusah-payahan memperjodohkan anak-anak. Yang perempuan supaya bersuami, yang laki-laki supaya beristeri. Setelah semuanya itu selesai; rumah sudah ada, anak-anak sudah kawin, yang laki-laki telah keluar bersama isterinya, yang perempuan telah keluar dibawa suaminya, tinggallah awak telah tua dalam kesepian ditinggalkan anak cucu. Setelah datang usia tua, segala penat, payah, mulailah terasa. Kaki mulai penat, tangan mulai pegal, mata mulai kabur, gigi mulai goyah dan gugur, uban mulai bertabur, telinga mulai pekak, kepala sakit-sakit dan pening; akhirnya ditutup semuanya dengan mati.
Dengan semua perjalnan itu yang terakhir adalah kita akan bertemu dengan pencipta kita, yang menciptakan dan mematikan kita kembali. Semua manusia jelas akan mati seperti yang telah dijelaskan pada hadits dan al-qur'an. Oleh karenanya, apakah kita akan mati dengan sia-sia tanpa menyediakan bekal? Pastinya tidak, kita harus mencari bekal itu dari sekarang karena kita semua tidak tahu kapan Allah akan memerintahkan malaikat untuk menjemput kita.
Banyak hal yang dapat kita persiapkan sedini mungkin. Hal yang dapat kita lakukan bukan hanya sesuatu yang mengharuskan kita mengorek kantung sedalam mungkin, tapi cukup dengan kita melakukan ibadah dengan niat ubtuk mendapatkan ridha Allah Swt. Contohnya, dengan tersenyum. Walau hanya tersenyum atau mengucapkan salam kita bisa mendapatkan keuntungan yang berlipat, misalnya:
memperkuat tali persaudaraan,
menimbulkan rasa ramah, tidak sombong,
menyejukkan hati,
membuat orang lain merasa bahagia, dll.
Tanpa mengorek banyak uang bukan? Tapi ingat! Jikalau kita ada harta tetaplah ingat bahwa hasil yang kita dapatkan itu bukanlah murni milik kita sendiri, akan tetapi ada sebagian harta dari kerabat kita yang ikut didalamnya. Karena itulah ada hal yang disebut dengan Zakat. Apakah anda rajin berzakat dan bersedekah? Itu patut untuk dipertanyakan.
Perilaku lain yang dapat kita lakukan tanpa banyak mengorek saku adalah membaca Al-qur'anul karim. Kita bisa mendapatkan banyak pahala dan jika kita selalu membacanya karena Allah Swt. Kita juga akan beruntung di hari kiamat kelak, karena Al-qur'an akan memberi syafa'at kepada para pembacanya (seperti yang telah di terangkan dalam hadits). Dan masih banyah lagi perilaku yang lainnya.
Dari banyak keterangan diatas kita bisa simpulkan bahwa,
jangan sampai kita menyianyiakan hidup kita hanya untuk berfoya-foya tanpa mempedulakan saudara kita yang lain,
buatlah hidup kita benar-benar menjadi hidup yang bermanfaat,
buatlah diri kita menjadi orang yang berguna bagi orang lain bukan sampah bagi orang lain,
jangan kita melakukan tindak kekerasan, karena tindakan itu bukanlah tindakan yang terpuji.
Mungkin itu saja yang dapat saya paparkan, apabila ada kekeliruan mohon maaf karena saya sendiri adalah hamba Allah yang masih memiliki banyak kekhilafan.
Sumber hadits dapat dilihat di sini.
By Rizki

PERMAINAN TRADISIONAL INDONESIA